![]() |
| Kepala Desa Bakungtemenggungan bersama warga petani meninjau sawah pertanian |
Sidoarjo – Setelah hampir satu dekade menghadapi keterbatasan pasokan air, petani di Desa Bakungtemenggungan, Kecamatan Balongbendo, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, kini kembali dapat menggarap sawah dengan lebih optimal.
Perubahan itu terlihat dari hamparan persawahan yang mulai menghijau. Tanaman padi tumbuh subur meski saat ini memasuki musim kemarau.
Kondisi tersebut terjadi setelah saluran irigasi yang sebelumnya mengalami kendala kembali berfungsi dengan baik. Air kini dapat mengalir hingga ke area persawahan, sehingga petani tidak lagi sepenuhnya mengandalkan curah hujan maupun sumur bor.
Dengan ketersediaan air yang lebih terjamin, petani bahkan berpeluang melakukan penanaman padi hingga tiga kali dalam setahun.
Salah seorang petani, Samir, mengungkapkan, selama bertahun-tahun lahan pertanian di wilayahnya mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air. Kondisi itu membuat aktivitas bercocok tanam sangat bergantung pada hujan dan sumber air dari sumur bor.
“Awalnya memang sulit, karena air tidak bisa masuk ke sawah. Petani biasanya mengandalkan air hujan dan sumur bor,” ujar Samir saat membersihkan saluran air persawahan, Selasa (29/9/2026).
Menurut Samir, kondisi mulai berubah setelah saluran irigasi kembali berfungsi. Distribusi air ke persawahan menjadi lebih lancar sehingga petani tetap dapat menanam padi meski memasuki musim kemarau.
Kepala Desa Bakungtemenggungan, Abu Dawud, mengatakan pulihnya fungsi irigasi tersebut tidak terlepas dari upaya pemerintah desa yang selama beberapa tahun melakukan koordinasi dengan berbagai pihak.
Menurutnya, selama kurang lebih empat tahun pemerintah desa berupaya mendorong pembenahan jaringan irigasi, terutama untuk mengatasi kebocoran yang menyebabkan pasokan air tidak optimal.
Upaya tersebut juga dilakukan dengan berkoordinasi dengan pihak terkait, termasuk pemerintah pusat melalui kementerian.
“Alhamdulillah dari koordinasi dengan semuanya itu membuahkan hasil, apalagi setahun yang lalu ada kunjungan bapak menteri, ada program inpres terkait infrastruktur saluran irigasi. Sehingga sekarang tidak ada kebocoran untuk irigasi pertanian, sehingga airnya sampai ke desa kami,” kata Abu Dawud.
Kini, puluhan hingga ratusan petani di wilayah tersebut dapat kembali memanfaatkan lahan persawahan secara maksimal. Ketersediaan air yang lebih baik diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus mengembalikan lahan yang sebelumnya terkendala pasokan air menjadi lebih produktif.
Abu Dawud berharap kelancaran aliran air tersebut diikuti dengan pengaturan distribusi yang lebih baik, terutama dalam pembagian debit air kepada para petani.
“Untuk ke depan kami berharap kepada petugas pengairan bisa berkoordinasi lebih baik lagi dengan petani atau pengurus pengairan di desa, karena aliran air sudah lancar tinggal pengaturan debit air saja,” pungkas Abu Dawud.


