![]() |
| Halqoh alim ulama di ponpes Al Khoziny |
Sidoarjo - Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, para alim ulama dan pengasuh pondok pesantren dari berbagai daerah diajak bersama-sama menyukseskan agenda permusyawaratan tertinggi organisasi tersebut. Muktamar diharapkan dapat menghasilkan keputusan terbaik bagi masa depan NU dan tetap berpijak pada khittah perjuangan yang diwariskan para pendiri NU.
Ajakan tersebut disampaikan mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dua periode, KH Said Aqil Siraj, dalam acara Halaqoh Alim Ulama Pengasuh Pondok Pesantren yang digelar di Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (24/8/2026).
KH Said Aqil Siraj yang saat ini menjabat sebagai Mustasyar PBNU masa khidmat 2022–2027 tidak dapat hadir secara langsung dalam halaqoh tersebut. Namun, ia menyampaikan pesan kepada para alim ulama dan pengasuh pesantren yang hadir melalui sambungan Zoom.
Dalam pesannya, KH Said Aqil menekankan pentingnya kebersamaan para ulama dalam memikul tanggung jawab menjaga umat sekaligus memastikan Muktamar NU ke-35 berlangsung secara bermartabat.
Menurutnya, Muktamar bukan sekadar forum untuk menentukan kepemimpinan organisasi, tetapi momentum penting untuk memastikan NU tetap berjalan sesuai dengan khittah dan cita-cita yang telah diletakkan para pendirinya.
Ia pun mengajak seluruh pihak yang terlibat agar menyukseskan Muktamar dengan penuh tanggung jawab, menjaga marwah organisasi, serta menghindari praktik politik uang.
"Ini adalah amanat yang sangat berat, yang tidak mungkin hanya kita atasi dengan tenang-tenang saja, dengan santai-santai saja. Kita prihatin, kita harus betul-betul bismillah, mensukseskan muktamar kali ini dengan penuh mahabah, dengan penuh wibawa," ujar KH Said Aqil Siraj.
Ia secara tegas juga mengingatkan agar proses Muktamar tidak dikotori oleh kepentingan materi maupun praktik politik uang.
"Jauhkan dari money politik, kita tidak butuh uang, kita tidak butuh dunia, kita tidak takut mati. Insya Allah akan menghasilkan hasil yang sah dan yang baik," tegasnya.
Pesan tersebut mendapat perhatian dalam forum halaqoh yang dihadiri para pengasuh pondok pesantren dari berbagai daerah. Para ulama didorong untuk tidak hanya menjadi penonton dalam proses Muktamar, tetapi turut mengambil tanggung jawab moral dalam menjaga keberlangsungan dan marwah NU.
KH Said Aqil juga menekankan bahwa tantangan NU ke depan membutuhkan kebersamaan, keteguhan sikap, serta komitmen untuk terus memelihara umat. Karena itu, Muktamar ke-35 diharapkan tidak berhenti pada persoalan pergantian kepemimpinan, tetapi mampu melahirkan keputusan strategis yang memberikan manfaat lebih luas bagi warga NU dan masyarakat.
Dengan semangat tersebut, para alim ulama dan pengasuh pesantren diharapkan dapat mengawal pelaksanaan Muktamar NU ke-35 agar berlangsung aman, tertib, demokratis, bermartabat, serta tetap berada dalam koridor nilai-nilai ke-NU-an.
Sejumlah ulama yang hadir di antaranya KH R Abdussalam Mujib Buduran, KH Lukman Hafis Dirnyati Tremas, KH Kafabihi Mahrus Lirboyo Kediri, KH Nurul Huda Djazuli Kediri, KH Masnur Hasan Sidoarjo, KH Jami’ Bangil, KH R Abdul Hamid Abdul Qodir Krapyak-Yogyakarta, KH Al Akbar Marbun Medan, serta KH Ubaidillah Shodaqoh Semarang.
Hadir pula sejumlah ulama lainnya, antara lain KH M. Ali Kholil, KH Nailurrokhman Idris Hamid, KH Makki Nashir Bangkalan, KH Latief Maliq Tambakberas, KH Said Abd. Rokhim Sarang, KH Muhammad bin Abd Abbas, KH Abun Bunyamin, KH Sholeh Bahaudin, KH Zuhri Zaini, KH Ali Maschan Musa Surabaya, KH Ahmad Subakir Kediri, dan KH Abi Dawud Sidoarjo.
Dalam halaqah tersebut, para kiai merumuskan sejumlah pokok pikiran yang dinilai penting menjadi pegangan dalam Muktamar NU ke-35. Salah satu ulama yang hadir, KH Ali Maschan Musa, menyebut terdapat lima poin utama yang menjadi hasil halaqah.
Pertama, menegaskan posisi NU sebagai organisasi sosial keagamaan yang tetap kokoh berkhidmat untuk umat, bangsa, dan kemaslahatan masyarakat.
Kedua, NU harus menjalankan fungsi sebagai himayatul ummah atau pelindung dan pengayom umat, sekaligus sebagai gerakan jam’iyyah yang menjaga kesinambungan organisasi, tradisi, serta cita-cita Nahdlatul Ulama.
Ketiga, pesantren harus tetap menjadi pusat tradisi keilmuan NU, kaderisasi ulama, pembentukan karakter, serta penjaga turats dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.
Keempat, kepemimpinan NU harus berbasis nilai spiritual dan tetap berakar pada jamaah. Kepemimpinan tidak hanya mengedepankan kemampuan manajerial, tetapi juga keteladanan ulama, spiritualitas, dan akhlakul karimah.
Sedangkan poin kelima adalah mengutamakan kaidah fikih “dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih”, yang bermakna mencegah kerusakan harus didahulukan daripada mengambil kemaslahatan.
Muktamar NU ke-35 yang akan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, pada 27 hingga 30 Agustus mendatang itu menjadi momentum penting bagi warga Nahdliyin untuk memperkuat persatuan sekaligus meneguhkan kembali khittah perjuangan NU di tengah berbagai tantangan zaman.


